A. Hakikat
Interaksi Sosial.
Interaksi sosial merupakan suatu
fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma
dan nilai
sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat.
Dengan adanya nilai
dan norma
yang berlaku,interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung
dengan baik jika aturan - aturan dan nilai – nilai yang ada dapat dilakukan
dengan baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing – masing,maka
proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Menurut
Prof. Dr. Soerjono
Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial
merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi
ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin
ada kehidupan bersama(wilkipedia). Jika hanya fisik yang saling berhadapan
antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial
yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi
merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi
sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat
disebut interaksi.
Para
penyandang Autisme, adalah seorang individu, yang pada hakikatnya adalah
seorang makhluk sosial. Namun, seperti yang kita ketahui, penderita autis
menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru (Yosvan Azwandi 2005:
30). Hal itu mengakibatkan mereka mengalami banyak permasalahan dalam proses
interaksi sosial.
B. Permasalahan
Interaksi Sosial Anak Autis
Beberapa
ciri anak dengan autistik adalah : (a) lebih suka menyendiri;(b) tidak ada,
atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan;(c) tidak tertarik
bermain bersama teman; (d) bila diajak bermain, dia tidak mau dan menjauh
(Ganda Sumekar, 2009: 280). Dan interaksi sosial adalah, hubungan timbal balik antara
sesorang, dengan orang lainnya, dalam satu lingkungan dengan aturan, dan norma
tertentu.
Dari
keterangan tersebut, jelas bahwa anak dengan autisme, mengalami banyak
permasalahan dalam proses interaksi sosialnya. Permasalahan- permasalahan
tersebut diuraikan sebagai berikut:
a. Keterlambatan
dalam berkomunikasi
Komunikasi
adalah hal terpenting dalam proses interaksi sosial, diamana seseorang dapat
menginstruksi lingkungan sosialnya dengan menggunakan bahasa dan tatacara
berkomnikasi yang telah ditetapkan lingkungannya.
Sekitar 50% anak
autistik mengalami keterlambatan dan abnormalitas, dalam berbahasa dan bicara.
Lawan bicara anak autis, akan sering kesulitan untuk memahami ucapan yang
ditujukan kepada mereka, sehingga proses interaksi antara keduanya menjadi
tidak lancar.
b. Ketidakmampuan
berekspresi, dan memahami, ekspresi orang lain
Walaupun, mereka
berminat untuk mengadakan hubungan sosial dengan teman-temannya, seringkali
terdapat hambatan karena ketidakmampuan mereka memhami aturan-aturan yang
berlaku dalam proses interaksi sosial tersebut. Ketidak pahaman mereka mengenai
aturan-aturan sosial, salah satunya disebabkan karena mereka tidak mampu
memahami ekspresi wajah orang lain, maupun mengekspresikan persaannya dalam
bentuk vokal, maupun ekspresi wajah.
c. Ketidaklaziman
aktivitas, dan minat
Anak autis
memperlihatkan ketidakwajaran dalam aspek aktivitas dan minat, seperti mereka
sering melakukan sesuatu berulang- ualang, aneh dan tidak kreativ ( Departemen
Pendidikan Nasional 2005: 30). Anak autis menolak adanya perubahan lingkungan,
dan rutinitas baru, seperti mereka akan kebingungan bila jalan menuju sekolah
diubah dari yang biasanya.
Dalam hal minat,
anak autis terbatas, dan sering aneh. Misalnya, mereka sering membuang waktu
berjam- jam hanya untuk memainkan sekelar listrik, memutar- mutar botol,
berputar- putar, dan sebagainya.
C.
Bentuk- bentuk interaksi sosial anak
autis
Perilaku
sosial yang menjadi karakteristik anak autis terbagi dalam tiga jenis yaitu:
a.
Aloof artinya bersikap menyendiri
Ciri
yang khas pada anak-anak autis ini adalah senantiasa berusaha menarik diri
(menyendiri) dimana lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan
orang lain, tampak sangat pendiam, serta tidak dapat merespon terhadap isyarat
sosial atau ajakan untuk berbicara dengan orang lain disekitarnya. Anak autis
cenderung tidak termotivasi untuk memperluas lingkup perhatian mereka Anak
autis sangat enggan untuk untuk berinteraksi dengan teman lain sebayanya,
terakadang takut dan marah bahkan menjauh jika ada orang lain mendekatinya.
Paling kentara ketika kita mengamati anak autis mereka lebih cenderung
memisahkan diri dari kelompok teman sebayanya, terkadang berdiri atau duduk di
pojok pada sudut ruangan.
b.
Passive
Ciri
khas anak anak autis daslam berperilaku yang kedua adalah bersikap passive,
anak autis dalam katagori ini tidak tampak perduli dengan orang lain, tapi
secara umum anak autis dalam katageri ini mudah ditangani dibanding katageri aloof.
Mereka cukup patuh dan masih mengikuti ajakan orang lain untuk berinteraksi. Di
lihat dari kemampuannya anak autis pada kategori ini biasanya lebih tinggi
dibanding dengan anak autistik pada kategori aloof.
c.
Active but Odd
Mereka sering aktif melakukan
kegiatan-kegiatan yang tidak biasa dilakukan orang lain, seberti: bicara tanpa
henti selama berjam-jam, berlari kesana-sini tanpa alasan yang jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar