Hetalia: Axis Powers - Liechtenstein -->

Jumat, 05 September 2014

Interaksi Sosial Anak Autis



A.    Hakikat Interaksi Sosial.

Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku,interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan - aturan dan nilai – nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing – masing,maka proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan bersama(wilkipedia). Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.
Para penyandang Autisme, adalah seorang individu, yang pada hakikatnya adalah seorang makhluk sosial. Namun, seperti yang kita ketahui, penderita autis menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru (Yosvan Azwandi 2005: 30). Hal itu mengakibatkan mereka mengalami banyak permasalahan dalam proses interaksi sosial.





B.     Permasalahan Interaksi Sosial Anak Autis

Beberapa ciri anak dengan autistik adalah : (a) lebih suka menyendiri;(b) tidak ada, atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan;(c) tidak tertarik bermain bersama teman; (d) bila diajak bermain, dia tidak mau dan menjauh (Ganda Sumekar, 2009: 280). Dan interaksi sosial adalah, hubungan timbal balik antara sesorang, dengan orang lainnya, dalam satu lingkungan dengan aturan, dan norma tertentu.
Dari keterangan tersebut, jelas bahwa anak dengan autisme, mengalami banyak permasalahan dalam proses interaksi sosialnya. Permasalahan- permasalahan tersebut diuraikan sebagai berikut:

a.       Keterlambatan dalam berkomunikasi

Komunikasi adalah hal terpenting dalam proses interaksi sosial, diamana seseorang dapat menginstruksi lingkungan sosialnya dengan menggunakan bahasa dan tatacara berkomnikasi yang telah ditetapkan lingkungannya.
Sekitar 50% anak autistik mengalami keterlambatan dan abnormalitas, dalam berbahasa dan bicara. Lawan bicara anak autis, akan sering kesulitan untuk memahami ucapan yang ditujukan kepada mereka, sehingga proses interaksi antara keduanya menjadi tidak lancar.

b.      Ketidakmampuan berekspresi, dan memahami, ekspresi orang lain

Walaupun, mereka berminat untuk mengadakan hubungan sosial dengan teman-temannya, seringkali terdapat hambatan karena ketidakmampuan mereka memhami aturan-aturan yang berlaku dalam proses interaksi sosial tersebut. Ketidak pahaman mereka mengenai aturan-aturan sosial, salah satunya disebabkan karena mereka tidak mampu memahami ekspresi wajah orang lain, maupun mengekspresikan persaannya dalam bentuk vokal, maupun ekspresi wajah.

c.       Ketidaklaziman aktivitas, dan minat

Anak autis memperlihatkan ketidakwajaran dalam aspek aktivitas dan minat, seperti mereka sering melakukan sesuatu berulang- ualang, aneh dan tidak kreativ ( Departemen Pendidikan Nasional 2005: 30). Anak autis menolak adanya perubahan lingkungan, dan rutinitas baru, seperti mereka akan kebingungan bila jalan menuju sekolah diubah dari yang biasanya.
Dalam hal minat, anak autis terbatas, dan sering aneh. Misalnya, mereka sering membuang waktu berjam- jam hanya untuk memainkan sekelar listrik, memutar- mutar botol, berputar- putar, dan sebagainya.

C.     Bentuk- bentuk interaksi sosial anak autis

Perilaku sosial yang menjadi karakteristik anak autis terbagi dalam tiga jenis yaitu:
a.       Aloof artinya bersikap menyendiri

Ciri yang khas pada anak-anak autis ini adalah senantiasa berusaha menarik diri (menyendiri) dimana lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain, tampak sangat pendiam, serta tidak dapat merespon terhadap isyarat sosial atau ajakan untuk berbicara dengan orang lain disekitarnya. Anak autis cenderung tidak termotivasi untuk memperluas lingkup perhatian mereka Anak autis sangat enggan untuk untuk berinteraksi dengan teman lain sebayanya, terakadang takut dan marah bahkan menjauh jika ada orang lain mendekatinya. Paling kentara ketika kita mengamati anak autis mereka lebih cenderung memisahkan diri dari kelompok teman sebayanya, terkadang berdiri atau duduk di pojok pada sudut ruangan.

b.      Passive

Ciri khas anak anak autis daslam berperilaku yang kedua adalah bersikap passive, anak autis dalam katagori ini tidak tampak perduli dengan orang lain, tapi secara umum anak autis dalam katageri ini mudah ditangani dibanding katageri aloof. Mereka cukup patuh dan masih mengikuti ajakan orang lain untuk berinteraksi. Di lihat dari kemampuannya anak autis pada kategori ini biasanya lebih tinggi dibanding dengan anak autistik pada kategori aloof.

c.       Active but Odd

Mereka sering aktif  melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak biasa dilakukan orang lain, seberti: bicara tanpa henti selama berjam-jam, berlari kesana-sini tanpa alasan yang jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar